Memerhatikan Kebutuhan Anak Dan Duduk Bersama Mereka Untuk Menyelesaikan Problem Yang Mereka Hadapi

❁✺❁✺❁✺❁✺❁

⛳🎯🍥MEMERHATIKAN KEBUTUHAN ANAK DAN DUDUK BERSAMA MEREKA UNTUK MENYELESAIKAN PROBLEM YANG MEREKA HADAPI

📝 Oleh: Asy-Syaikh Abdullah bin Abdir Rahim al-Bukhari hafizhahullah
______________________________________
🚩 🚩 🚩 🚩

🔴✅ Tidak diragukan lagi, di antara sifat seorang manusia ~terkhusus anak-anak kita, yang lelaki dan perempuan~ adalah selalu menghadapi masalah dan kesulitan hidup. Apalagi jika mereka sudah beranjak dewasa. Perhatian yang mereka dapatkan tidak lagi sebagaimana ketika masih pada fase kanak-kanak.

🌈💐 Benar bahwa mereka memiliki hak-hak yang bahkan harus sudah ditunaikan oleh orang tua sejak sebelum dilahirkan ke dunia, ketika masih berada dalam perut sang ibu, ketika menjadi bayi yang menyusu, memasuki masa kanak-kanak, fase setelahnya, kemudian memasuki masa remaja dan pemuda, lalu masa dewasa. Pada setiap fase tersebut, mereka memiliki hak yang harus dipenuhi. Hak itu pun tidak lantas berhenti ditunaikan ketika mereka memasuki fase berikutnya. Setiap fase memiliki hal-hal spesifik yang terkait dengannya. Selain itu, setiap fase juga memiliki penanganan dan metode tersendiri.

🍂🍎 Penumbuhan yang baik sejak kecil akan bermanfaat bagi seseorang ketika dewasa. Barang siapa yang melalaikan sisi ini—yakni tarbiyah anak semasa kecil—, perilaku anak menjadi jelek ketika dewasa. Jelek pula sikapnya terhadap ayah ibunya, dan akan muncul sejenis pembangkangan. Bisa jadi, saat itu orang tua akan bertanya-tanya, apa sebabnya? Padahal, sebabnya bisa jadi terletak pada diri orang tua: mereka melalaikan tarbiyah anaknya.

📜 Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Betapa banyak orang yang mencelakakan anaknya, belahan jiwanya, di dunia dan di akhirat, dengan sebab tidak memberi anak pendidikan adab. Ia justru membantu anak mewujudkan segala keinginan syahwatnya. Dia menyangka bahwa dengan demikian berarti dia telah memuliakan si anak, padahal justru menghinakannya. Dia sangka bahwa dia telah memberi kasih sayang kepada anak, padahal justru menzaliminya. Akibatnya, dia pun tidak bisa mengambil manfaat dari keberadaan anak. Dia pun menyebabkan sang anak tidak mendapat bagian di dunia dan di akhirat. Apabila memerhatikan kerusakan yang terjadi pada anak-anak, engkau akan melihat bahwa mayoritas penyebabnya berasal dari orang tuanya.” (Tuhfatul Maudud biAhkamil Maulud, hlm. 351)

✒📋 Oleh karena itu, saya (asy-Syaikh Abdullah al-Bukhari, -pent.) katakan, di antara hak anak yang wajib ditunaikan oleh ayah dan ibunya ialah memberi perhatian terhadap masalah yang dihadapi oleh anak, mencari solusinya dengan akal yang bagus dan mencermatinya dengan hikmah yang sempurna.

🚧 Sebagian masalah perlu diperketat, sebagian lain perlu dibiarkan, sesuai dengan kadar masalah dan kesulitan yang dihadapi. Bisa jadi, sebenarnya tidak ada masalah, tetapi bagi si remaja hal itu menjadi urusan mengkhawatirkan yang perlu dimusyawarahkan. Dan orang terbaik yang bisa dia ajak bermusyawarah ialah kedua orang tua.

🌺🌿 Apabila hubungan dengan orang tua telah terjalin dengan baik dan “jembatan” telah terbentang, di atas rasa percaya penuh kepada Allah ‘azza wa jalla dan kejujuran kepada-Nya ketika mendidik anak dengan baik, tentu hal ini akan sangat meringankan masalah yang dihadapi oleh anak dan membantu dirinya untuk melaluinya—dengan izin Allah. Berbeda halnya jika ternyata ada dinding penghalang dan penolakan, tentu orang tua tidak bisa ikut menyelesaikan masalah seperti itu.

🌀 Walhasil, pada masa kita ini banyak sekali hal-hal yang memalingkan dari kebenaran. Demikian pula hal-hal yang menyibukkan, lebih banyak. Hal-hal yang melalaikan pun sangat banyak. Anak-anak kita—yang lelaki dan perempuan—membutuhkan bantuan dan perhatian penuh. Mereka perlu dibiasakan merasa takut, berharap, cinta kepada Allah ‘azza wa jalla, memasrahkan diri di hadapan-Nya, dan menanamkan hal itu dalam jiwa mereka. Semua ini adalah hal penting yang wajib ditanamkan kepada anak-anak.

🌏🌌 Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah beberapa hari dan malam yang akan terhenti. Barang siapa mempersiapkan kebaikan, dia pun akan mendapat kebaikan. Sebaliknya, siapa yang mempersiapkan keburukan, dia pun akan mendapatkan keburukan. Hendaknya seseorang tidak mencela selain dirinya sendiri.

💎 Apabila dia telah menunaikan kewajibannya dan melakukan tanggung jawabnya di hadapan Allah ‘azza wa jalla, sungguh dia telah terbebas dari beban yang menjadi tanggung jawabnya. Allah tidak membebani sebuah jiwa selain apa yang telah Dia berikan kepadanya..

˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚

📝📗Diterjemahkan dari Huququl Aulad ‘alal Aba wal Ummahat, karya asy-Syaikh Abdullah bin Abdir Rahim al-Bukhari hafizhahullah, hlm. 44—50
______________________________________

💻📑Majalah Asy Syariah Online

🌏 http://www.ittibaus-sunnah.net
◉  ◈  ◉  ◈  ◉  ◈  ◉  ◈  ◉  ◈  ◉
📌 أصحاب السنة
⭐ASHHABUS SUNNAH✪

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s