Berkaca dari Pendahulu yang Shalih dalam Perhatian Kepada Anak-anaknya

🌻🌻🌻WA BILAAD🌻🌻🌻

✒ Catatan Ummi – Catatan Ummi

✅Berkaca dari Pendahulu yang Shalih dalam Perhatian Kepada Anak-anaknya.

〽Abdul Aziz bin Marwan rahimahullah pernah mengutus anaknya yang bernama Umar ke Madinah dalam rangka belajar. Ayahnya menulis surat kepada Sholih bin Kaisan agar ia menjaganya.
    
🌴Sholih bin Kaisan mengharuskannya sholat jama’ah. Kemudian pada suatu hari, Umar bin Abdul Aziz terlambat melaksanakan sholat jama’ah. Maka Sholih bin Kaisan bertanya, “Apa yang menghalangimu?!”. Umar menjawab, “Tukang sisirku mengatur rambutku”. Sholih bin Kaisan berkata, “Apakah pengaturan rambutmu menyebabkan engkau lebih mengutamakannya dibandingkan sholat?!”

🍁Kemudian Sholih bin Kaisan pun menulis surat ke orang tua Umar bin Abdul Aziz tentang kejadian tersebut. Akhirnya Abdul Aziz mengirim seorang utusan. Utusan itu tidaklah berbicara dengan Umar sampai ia mencukur rambut Umar.

🌱Kisah diatas ada dalam Siyar A’lamin Nubalaa.  Dalam buku “Manaqib Umar bin Abdul ‘Azis karya Ibnul Jauzi” (edisi terjemahan berjudul “Kisah Pemimpin Legendaris Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah”) disebutkan bahwa Umar bin Abdul Azis berguru kepada Ubaidullah bin Abdullah, dan yang menyebabkan beliau terlambat shalat adalah sibuk dengan syair.

🍄Kisah diatas memberikan pelajaran penting bagaimana orang tua ketika mengirim anaknya untuk belajar, mereka memastikan adanya pengawasan yang ketat kepada putranya dan terus memantau perkembangan putranya.  Orang tua Umar (Abdul Azis) menerima laporan dari  Sholih bin Kaisan tentang perkembangan dan aktifitas baik atau buruk yang dilakukan anaknya, tidak ‘pasrah bongkokan’ begitu saja kepada gurunya.  

👍🏽❓Hasilnya?  Kita tahu sendiri, sejarah mencatat dengan tinta emas kisah menakjubkan dari pribadi bernama Umar bin ‘Abdul Azis rahimahullah.

💦Orang tua sekarang banyak yang ketika memasukkan anaknya kedalam lembaga pendidikan, mereka tidak tahu  –kalau tidak mau dikatakan tidak peduli– apa yang sebenarnya dilakukan sang anak. 

❓Apakah mereka (anak-anaknya itu) shalat berjama’ah dengan disiplin? Apakah mereka suka mengganggu teman?  Apakah mereka suka mengambil milik orang lain? Apakah mereka sudah menggunakan adab yang baik ketika meminta dan meminjam?. Apakah mereka rajin belajar?  Apa keluhan-keluhan mereka?  Itu semua banyak yang ‘blank’  (gelap) dikalangan orang tua.  Akibatnya ketika kondisi anaknya sudah parah orang tua baru bertanya:  Kok anakku jadi begini?

☑Lembaga pendidikan baik berupa ma’had ataupun bentuk lainnya sebaiknya memiliki catatan perilaku anak.
☑Catatan perilaku positif anak, catatan perilaku negatif anak, potensi-potensi yang dimiliki anak, prestasi anak baik akademik (kurikulum pendidikan) maupun kegiatan tambahan dll.  

❗Di rumah, orang tua hendaknya juga mengawasi perkembangan perilaku anak, misalnya pengamalan dari ahlak Islami, adab sehari-hari, siapa teman-temannya dll.

🔽Secara lebih rinci, berikut contoh-contoh praktis bentuk perhatian orang tua kepada putra-putrinya:

🔘Bangun pagi, biasakan anak-anak terutama yang usia 7 tahun keatas untuk bangun malam sebelum shubuh.  Banyak orang tua yang bangun malam tapi kurang mendorong anak-anaknya untuk bangun dengan alasan kasihan.

🔘MCK (mandi, cuci, kakus) hendaknya dikontrol apakah mandinya sudah bersih?  Apakah cara menyikat giginya sudah bener?

🔘Pulang sekolah tanyakan ada kejadian apa di sekolah?  Bagaimana teman-teman disekolah?  Bisakah menerima dengan baik pelajaran dari guru/ustadz?  Adakah permasalahan yang dihadapi?  Sebagian orang tua perhatian hanya semata dari raport semesteran saja.

🔘Ketika bermain diluar, arahkan agar berteman dengan anak-anak yang baik dan perhatikan dengan siapa dia berteman.  Ketika di lingkungan ada anak yang buruk, berikan pengertian akibat buruk dari teman yang buruk.  Lebih bagus lagi kalau ada bahan kisah akhir yang buruk dari anak yang jauh dari nilai-nilai Islami, jeleknya anak-anak ‘punk’ dll.   Sebagian orang tua yang sibuk kurang memperhatikan dengan siapa anaknya bergaul, akhirnya baru tersadar setelah anaknya jauh terbawa oleh teman-temannya.

🔘Ketika shalat Jum’at bagi anak laki-laki, arahkan agar mengisi shaff depan dan awasi agar tidak bersenda gurau di masjid.  Sebagian orang tua khusyu’ berdzikir di shaff depan, sementara anaknya dibiarkan ngobrol dan bermain di belakang.  Dan lainnya amat banyak dari bentuk perhatian orang tua kepada anak-anaknya.

💦💦💦Sudah terlalu banyak kejadian anak yang akhirnya futur, bergabung dengan geng (gangster remaja), merokok bareng anak punk, kecanduan game dll yang salah satu sebabnya adalah kurangnya perhatian orang tua kepada anaknya. 

✅Nah agar kita tidak menyesal di kemudian hari,  mari kita lebih memperhatikan anak-anak kita, sehingga kelak biidznillah mereka akan bisa menjadi penyejuk mata kita, menjadi generasi yang shalih dan shalihah.

✏kiriman dari Ummu Haidar Cilacap anggota BILAAD 7

🌻🌻🌻WA BILAAD🌻🌻🌻

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s