Menyibak Tabir Kebangkitan PKI

🏜 🛳 Menyibak Tabir Kebangkitan PKI

🌷 Saudara-saudara kami kaum muslimin di manapun Anda berada, semoga Allah ta’ala senantiasa mencurahkan rahmat dan taufik-Nya kepada kita semua.

📄 Dalam artikel sebelumnya, telah kami sebutkan data dan fakta penting, yang bersumber langsung dari CC Politbiro PKI, bahwa memang benar PKI sebagai biang keladi pemberontakan berdarah 1965, yang lebih dikenal dengan peristiwa G-30S/PKI.

📉 Bahkan dalam jurnal resmi PKI tersebut dibahas sebab gagalnya kudeta berdarah PKI yang mereka istilahkan dengan: Kekalahan “Gerakan 30 September”.

📢 Tidak sekadar mengakui dan mengevaluasi kegagalan serta kekalahan yang menimpa mereka, lebih dari itu PKI kaum anti Tuhan Indonesia dengan lantang menyerukan kembali kepada seluruh rakyat Indonesia untuk mendukung pemberontakan senjata yang hendak PKI lakukan.

📡 Simak kembali di:

💡 PKI Mengaku Sebagai Dalang Kudeta Berdarah G-30S dan Seruan Untuk Kembali Memberontak

PKI Mengaku Sebagai Dalang Kudeta Berdarah G-30S dan Seruan Untuk Kembali Memberontak

⚖ Demikian pula dengan tegas Sudisman, seorang pimpinan teras CC-PKI, dalam sidang Mahmilub 1967, menyatakan:

🌒 “Jika saya mati sudah tentu bukannya berarti PKI ikut mati bersama dengan kematian saya. Tidak samasekali tidak. Walaupun PKI sekarang sudah rusak berkeping-keping, saya yakin ini hanya bersifat sementara, dan dalam proses sejarah, nanti PKI akan tumbuh kembali sebab PKI adalah anak zaman, yang dilahirkan oleh zaman.”

🔴 GEJALA KEBANGKITAN PKI

💊 Layaknya sebuah penyakit menular nan mematikan atau wabah yang mengancam nyawa banyak manusia, Komunisme atau PKI sudah menunjukkan gejala-gejala kebangkitannya.

🌡 Tanda-tanda awal dengan kebangkitan PKI bisa dilihat dari meningkatnya aktivitas berbau Komunisme yang mereka gencarkan, berikut diagnosanya:

🇮🇩 ANAK-ANAK PKI MASUK KE BIROKRASI DAN PARLEMEN

🚔 Di antara aroma kebangkitan PKI, saat ini anak-anak PKI, baik anak biologis atau anak idiologis, telah berhasil melakukan infiltrasi, menyusup ke dalam parlemen dan pemerintahan, di antaranya tercatat:

🇨🇳 1. Ribka Tjiptaning 

⚒ Ribka Tjiptaning , menjadi Ketua Komisi IX DPR RI dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) pada periode 2009-2014. Di komisi IX, ia mengetuai komisi yang memperhatikan masalah-masalah di bidang tenaga kerja dan transmigrasi, kependudukan, dan kesehatan. Ayahnya adalah Raden Mas Soeripto Tjondro Saputro, salah satu anggota biro khusus PKI di Solo, Jawa Tengah. Saat ini Ribka Tjiptaning masih tercatat aktif di parlemen.

🛠 PKI menurutnya adalah partai besar yang turut mewarnai bangsa ini. Bahkan, jika saja mau jujur, di Gedung DPR seharusnya dipajang partai-partai yang pernah duduk di DPR, PKI salah satunya.

📰 Bahkan pada tanggal 18 Maret 2004, Ribka Tjiptaning menulis dalam harian sore Suara Pembaruan, dia menyatakan:

🇨🇳 “Hanya dengan Nasakom (Nasionalis, Agama & Komunis) sajalah Indonesia ini bisa keluar dari persoalan bangsa ini.”

🔴 2. Rieke Diah Pitaloka

🔦 Rieke Diah Pitaloka Intan Purnamasari, lahir di Garut, Jawa Barat, 8 Januari 1974; menjadi anggota DPR periode 2009-2014 dari PDI-P.

👣 Bersama Ribka Tjiptaning, Rieke Diah Pitaloka  aktif melakukan konsolidasi mantan anggota PKI, salah satunya di Banyuwangi yang akhirnya dibubarkan masyarakat.

📹 Video bisa simak di sini:

💉 Pada masa kerja 2014-2019 Rieke duduk di Komisi IX yang membidangi tenaga kerja, transmigrasi dan kesehatan.

🚚 Di April 2016, Rieke dimutasikan ke Komisi VI yang membidangi BUMN, perindustrian, perdagangan dan investasi.

🔴 3. Budiman Sudjatmiko

🛠 Budiman Sudjatmiko, M.Sc., M.Phil, lahir di Majenang, Cilacap, Jawa Tengah, 10 Maret 1970; adalah aktivis dan politisi dari Partai Rakyat Demokratik. PRD adalah kepanjangan PKI, partai dengan lambang roda bergerigi, dengan AD/ART sama persis dengan hasil kongres PKI tahun 1954.

Saat ini, Budiman menjabat sebagai anggota DPR RI dari PDI Perjuangan (dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah VIII: Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Cilacap) dan duduk di komisi II yang membidangi pemerintahan dalam negeri, otonomi daerah, aparatur negara, dan agraria; dan juga merupakan Wakil Ketua Panitia Khusus Rancangan Undang-Undang Desa.

🔴 4.  Okky Asokawati

🕋 Okky Asokawati anak  dari Ajun Komisaris Besar Polisi Anwas Tanuamijaya seorang perwira polisi yang terlibat G-30S/PKI. Okky terjun ke dunia politik dan terpilih menjadi anggota DPR RI Komisi IX dari Fraksi PPP periode 2009-2014. Dalam pemilu legislatif 2014 ia maju kembali sebagai caleg DPR RI dari Partai Persatuan Pembangunan dapil DKI Jakarta II, dan kembali terpilih lagi.

🔴 5. Dita Indah Sari

💺 Dita Indah Sari (lahir di Medan, Sumatera Utara, 30 Desember 1972;),  dia adalah staf ahli Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dalam kabinet saat ini. Seorang Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia, ormas sayap wanita PKI) muda, berhasil melakukan infiltrasi, sekarang berada di kantor Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

🚩 Pada tahun 1994 bersama kawan-kawannya (termasuk  Budiman Sudjatmiko), Dita Indah Sari mendirikan Partai Rakyat Demokratik (PRD). Pada Maret 2005, dalam kongres luar biasa Dita Indah Sari terpilih sebagai ketua umum Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD).

📕 Dalam buku hariannya, tertanggal 16 April 1996, kader Gerwani Muda yang bernama Dita Indah sari menulis:

🇨🇳 “Partai sudah berdiri, Well, 31 tahun terkubur, dibantai dihina, dibunuh, dilarang, diawasi dikhianati, sekarang dibangun lagi”.

✍ Kalimat 31 tahun, menyiratkan bahwa yang dimaksud adalah tahun 1965, yaitu tahun kehancuran PKI, setelah gagal melakukan pemberontakan bersenjata.

📅 Tahun 2013 setelah lima belas tahun, Dita bereksperimen dengan demokrasi. Membangun partai kiri, gagal. Mengawinkan kelompok kiri dengan partai gurem Islam, hasilnya karam. Belakangan Dita masuk ke Kantor Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Ia menjadi juru bicara Menteri.

📝 Dita Indah Sari adalah Marxist tulen, generasi penerus Komunis Indonesia, posisi dan kedudukannya di birokrasi hanyalah taktik serta strategi yang lumrah ditempuh kaum Komunis ketika mereka lemah. Hal ini diakuinya dalam sebuah wawancara.

Berikut cuplikan wawancaranya,

✌ “Jangan dikira doktrin Lenin tidak fleksibel. Lenin sangat percaya dua taktik: taktik perjuangan di luar dan di dalam. Jangan dikira orang kiri itu hanya strict di luar pemerintahan…“

🚌 kata Dita kepada Deutsche Welle tentang alasannya bergabung ke dalam rezim. Dalam wawancara ini, Dita sering menggunakan kami atau kita sebagai kata ganti saya.

🏢 DW: “Seorang Marxist, yang berada di rejim SBY yang sering dituding neolib, apakah tidak merasa itu sebagai kontradiksi?”

🔫 Dita Indah Sari: “Pertama, semua kalangan kiri di dunia tujuannya adalah merebut kekuasaan. Kita melihat contoh seperti Hugo Chavez (bekas penguasa Venezuela-red) yang sebelum menjadi presiden juga berkarir di birokrasi militer, juga Lula da Silva (bekas presiden Brazil-red). Nah artinya berada dalam kekuasaan bagi seorang marxist itu adalah bagian dari perjuangan untuk menambah pengaruh, memperkuat jaringan, juga menempa diri kita sendiri.”

❓ DW: “Anda masih kiri?”

💯 Dita Indah Sari: “Masih… itu tak hilang.”

✏️ Bahkan ketika ditanya tentang kebenaran dalam doktrin Lenin, dia menjawab:

❓ DW: “Anda masih melihat kebenaran dalam doktrin Lenin?”

☀️ Dita Indah Sari: “Benar. Jangan dikira doktrin Lenin itu tidak mengandung fleksibilitas. Lenin sangat percaya dua taktik: taktik perjuangan di luar dan di dalam, kapan harus maju kapan harus mundur, kapan harus mendukung parlemen, kapan harus ikut pemilu, kapan jangan ikut pemilu. Lihat momentum kapan harus bikin tentara, kapan harus perang dengan masyarakat sipil, itu step-step perjuangannya.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s