NU ikut-ikutan MENGKRITIK SAUDI ARABIA, pantaskah…?

Pojok NU17 Dzul Hijjah 1436

Kita tentu masih ingat Muktamar NU ke-33 beberapa waktu lalu di Jombang. Ya sebuah muktamar yang diwarnai dengan kericuhan, keributan, bahkan saling memukul antar peserta muktamar. Sebuah muktmar yang dipenuhi dengan berbagai intrik dan persaingan meraih kepemimpinan.

SUNGGUH sangat memprihatikan dan memalukan. Sebuah acara paling elit di lingkup NU ternyata menjadi liar dan tak terkendali, bahkan seakan menampakkan wajah asli yang penuh anarkhis. Padahal yang hadir dalam acara besar tersebut adalah tokoh dan kader terbaik dari segenap cabang NU, bukan orang pasaran atau tukang becak. Ternyata ketika mereka bermuktamar ricuh besar.

Maka jangan heran, jika ada dari tokoh NU sendiri yang menyebut muktamar tersebut sebagai “nahdhatul juhala” (kebangkitannya orang-orang bodoh).

Setelah muktamar usai, maka tidak heran ketika muncul berbagai aksi protes dan penolakan terhadap hasil muktamar. Semua produk muktamar yang penuh manipulasi dan kecurangan itu ditolak, termasuk kepengurusan PBNU yang telah dilantik juga DIGUGAT …dan seterusnya, terus berlanjut dan berbuntut panjang, hingga hari ini BELUM SELESAI.

Dalam situasi ricuh yang masih berkepanjangan ini, tiba-tiba NU membuat pernyataan yang mengejutkan.

NU yang terbukti tidak bisa mengurus rumah tangganya ini, tiba-tiba ikut-ikutan mengkritik Saudi Arabia, dengan menyatakan bahwa Saudi telah lalai menjamin keselamatan jamaah haji menyusul musibah crane jatuh di Mekkah dan tragedi di Mina. Lagi pula, insiden di Mina sudah lima kali terjadi dan Saudi seolah tak pernah belajar dari kesalahan sebelumnya.

NU menuding pemerintah Saudi tak sungguh-sungguh meningkatkan pelayanan haji.

Demikian NU berstatemen

Mendengar pernyataan tersebut, kita heran dan tidak bisa menahan tawa….. Mestinya NU berkaca terlebih dahulu sebelum berkomentar.

Sebuah pernyataan yang jauh dari bobot ilmiah, sebaliknya sarat dengan nilai tendensius. Dunia melihat dan menyaksikan bagaimana kerja keras dan keseriusan Saudi Arabia dalam melayani jamaah haji, mengurus Masjidil Haram dan masjid Nabawi. Sementara jumlah jama’ah haji setiap tahunnya terus meningkat, dan tahun 1436 H ini mencapai sekitar 4 juta jamaah.

Demikianlah Saudi Arabia harus mengatur dan melayani jumlah sebesar itu. Alhamdulillah, Allah memberikan keikhlasan dan kesabaran serta taufiq kepada pemerintah Saudi Arabia bisa mengurus dan mengatur semuanya dengan tertib, aman, dan lancar.

Sementara NU, mengatur sedikit orang saja dalam muktamar, hasilnya RIBUT dan RICUH besar.

Sekali lagi, mestinya NU berkaca diri terlebih dahulu, jangan terburu ikut-ikutan berbicara sesuatu yang di luar kapasitasnya.

Sebagaimana kita tahu, yang paling lantang bereaksi atas musibah Mina adalah Iran yang Syi’ah itu. IRAN benar-benar memanfaatkan kejadian ini untuk memojokkan dan menjatuhkan Saudi Arabia. Media-media Iran benar-benar gencar menebar opini.

Yang serta merta mengikuti jejak Iran adalah kaum Islam Liberal, bahkan mereka “berani” lebih jauh lagi. Liberal berani memprotes kewajiban ibadah haji, bahwa dengan bangga menunjukkan protesnya kepada Allah yang telah mensyari’atkan ibadah haji. Astaghfirullah…

Maka sangat disesalkan ketika suara NU ternyata sama dengan suara Syi’ah, sama-sama memprotes dan menghujat Saudi Arabia. Sungguh ini membuat kita prihatin.

Di sisi lain, tidak sedikit dari tokoh dan kader NU yang ternyata menjadi Liberal.

Para kyai NU hendaknya mendidik umatnya untuk santun dan bisa menghargai kerja keras orang lain. Jangan mengajari umat untuk dengki dan hasad.

Seorang tokoh kyai ternama NU, ketika sakit keras, Pemerintah Saudi Arabia menawarkan tiga hal kepada sang Kyai, yaitu berobat ke Saudi, berobat ke rumah sakit mana saja di dunia, atau berobat di rumah sakit Indonesia yang semua pembiayaannya ditanggung pihak kerajaan.

Cerita ini tampaknya belum pernah diungkap kecuali setelah wafatnya pak Kyai tersebut, itu pun kepada kalangan terbatas. Bisa jadi sang Kyai itu bukan satu-satunya orang di Indonesia yang mendapatkan kebajikan ‘tanpa pamrih’ Saudi. KENAPA para Kyai NU seakan menutup mata dari ini semua?

Kenapa para Kyai NU seakan juga sangat berhasrat menutup segala hal yang bisa menarik simpati umatnya kepada Negara Tauhid dan Sunnah itu. Padahal fakta sejarah menunjukkan bahwa peran kebaikan Saudi Arabia terhadap negeri ini sangat besar, bahkan sejak sebelum kemerdekaan bangsa ini.

Sebagaimana dikatakan oleh salah seorang pejabat konsul haji Indonesia di Jeddah,

    “Padahal, sejarah Indonesia yang memiliki jalinan erat dengan negeri ini jauh sebelum berdirinya Republik Indonesia hingga sekarang BELUM MENYAKSIKAN PENGARUH NEGATIF RELASI INI, bahkan justru sangat positif. Hal itu tidak sebanding jika dikomparasi dengan pengaruh ideologi Iran, misalnya, yang menyebar secara clandestine. Cukup pengalaman pahit konflik horizontal Irak, Suriah, dan sekarang Yaman menjadi contoh konkret potensi ancaman ideologi yang dapat mengoyak kedamaian ibu pertiwi.”

Akankah hubungan dua negara (Indonesia dan Saudi Arabia) yang sudah terjalin baik dirusak oleh segelintir orang yang tak tahu rasa terima kasih dan tak mengenal tatakrama?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s