APABILA SHALAT TIDAK KHUSYU’

⛵💺 APABILA SHALAT TIDAK KHUSYU’

🎙 Fadhilatu asy-Syaikh al-‘Allamah Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah al-Fauzan hafizhahullah,

📬 Tanya :
“Apa yang harus dilakukan oleh orang yang tidak khusyu dalam shalatnya? Apakah shalatnya diterima?”

🔖 Jawab :
“Shalatnya tidak diperintah untuk diulangi, karena dia telah melaksanakan shalat.
🖇 Khusyu’ tidak termasuk syarat, rukun, maupun kewajiban-kewajiban shalat. Hanya saja khusyu’ merupakan RUHNYA SHALAT.

🌴 Sehingga shalat tidak akan diterima apabila tanpa khusyu’ atau kehadiran hati. Shalat tidak diterima tanpa kehadiran hati.

📨 Tidak ada untuk seseorang pahala dari shalatnya kecuali apa yang ia pahami dari shalatnya dan hatinya hadir padanya.

🎗 Sehingga wajib atas setiap muslim untuk menyadari perkara ini. Dia harus menjauhi hal-hal yang menyibukkan, yang bisa memalingkannya dari khusyu’.

✅ Oleh karena itu Nabi – shallallahu ‘alaihi wa sallam – melarang shalat ketika makan hadir dihidangkan, karena itu akan menyibukkan pikirannya. Beliau juga melarang shalat ketika seseorang menahan kencing atau hajat besar, karena itu juga bisa menyibukkan.
👉🏻 Jadi seseorang masuk dalam shalat harus dalam keadaan pikirannya kosong (dari berbagai hal yang bisa memalingkannya dari shalat, pen), pada tempat dan waktu yang tepat supaya tenang dalam shalatnya (sebagaimana ketentuan syari’at, pen).”

💻 sumber http://alfawzan.af.org.sa/node/13616

🔵ماذا يفعل من لا يخشع في الصلاة🔵

للفضيلة الشيخ العلاّمة/صالح بن فوزان بن عبدالله الفوزان حفظه الله تعالى ورعاه

الـسُــوال :-
ماذا يفعل من لا يخشع في الصلاة ، وهل تكون الصلاة مقبولة ؟

الــجَــوابُ:

” الصلاة لا يؤمر بإعادتها لأنه صلى
● ولكن الخشوع هذا ليس من شروطها وأركانها وواجباتها
●  إنما هو روحها

👈 فلا تقبل صلاة بغير خشوع أو حضور قلب،لا تقبل بغير حضور قلب
👈 وليس له من صلاته إلا ما عقل منها وحضر قلبه فيه منها

⬅ فيجب على المسلم أن يتنبه لهذا الأمر، وعليه أن يتجنب الشواغل التي تشغله عن الخشوع 

● ولهذا نهى النبي صلى الله عليه وسلم عن الصلاة بحضرة طعام لأنه يشغله
● ونهى عن أن يصلي وهو يدافع أحد الأخبثين البول والغائط ، لأنها شواغل

⬅فعلى الإنسان أن يدخل الصلاة وهو فارغ البال وفي مكانٍ وزمانٍ مناسب لراحته في الصلاة .

#khusyu’ #shalat #Al_Fauzan

•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu’ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram https://tlgrm.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi http://www.manhajul-anbiya.net

~~~~~~~~~~~~~~

Advertisements

BAHAYA MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL KEPADA ORANG NASRANI

Info dan ta’lim madiun 0857 3540 9543:
•:••>>>••:•


     PETUAH ULAMA


•:••>>>••:•

❌🔊 BAHAYA MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL KEPADA ORANG NASRANI❗❗❗

🌻 Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah,

👉🏻 “Seorang muslim melakukan SELURUH dosa besar secara bersamaan, itu lebih ringan dosanya di sisi Allah daripada dia mengucapkan selamat natal kepada seorang nasrani.”

📖 Ahkam Ahli Dzimmah

__________________

احذر من تهئنة النصارى

قال ابن القيِّم رحمه الله

⁉ أن يرتكب المسلم جميع الكبائر مجتمعة أهون عند الله من أن يُهنِّئ النصراني بعيده.

📖 “أحكام أهل الذمة”

════ ❁••:•✦•:••❁ ════

✍🏻WhatsApp
ⓚⓘⓣⓐ🇮🇩ⓢⓐⓣⓤ
Bagi-bagi faedah ilmiah….ayo segera  gabung.
🌐📲 Join Channel Telegram:
https://bit.ly/KajianIslamTemanggung

📻📡 Dengarkan al-Quran setiap saat di Radio Islam Indonesia
http://bit.ly/AplikasiRadioIslamIndonesia

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Surat al-Maidah 51

Yuk Kenal Nu:
📖 Surat al-Maidah 51

🌏 PANDANGAN BEBERAPA TOKOH NU

💥 Rais Syuriah PBNU KH Ahmad Ishomuddin menilai bahwa kepemimpinan yang dibutuhkan sekarang ini, baik untuk negara maupun dalam level daerah adalah pemimpin yang bisa dipercaya dan mampu membawa kemajuan atas daerah yang dipimpinnya.

☄ Kriteria itu bisa didapatkan dari seorang pemimpin muslim maupun non muslim karena sejatinya keduanya sama-sama punya hak untuk menjadi pemimpin.

⚡️ “Muslim dan non muslim punya hak sama untuk jadi pemimpin. NU tidak dalam posisi mendukung, apalagi menghalangi orang untuk menjadi pemimpin,” kata KH Ahmad Ishomuddin, dalam acara Halaqoh Kaum Muda NU Jakarta dengan tema Pilkada “Kesetiaan Pada Pancasila dan UUD 1945” di Hotel Bintang, Jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat, Minggu (9/10/2016).

☔️ Menurut dia, ramainya perdebatan mengenai pemimpin yang dikaitkan dengan SARA lebih karena tidak memahami tafsir dan asbabunnuzul dari ayat yang dijadikan dalil.

🚲 Seperti ayat 51 Surat al-Maidah, kata dia, merujuk tafsir terdahulu, yang dimaksud bukanlah untuk pemimpin seperti gubernur. Melainkan karena konteks saat itu yang sedang dalam kondisi perang.

💰Setali tiga uang dengan apa yang disampaikan oleh salah seorang kader NU, Nusron Wahid, mantan ketua GP Anshor. “Ketemu terjemahan Alquran dalam bahasa Indonesia berbeda kok bingung. Dari 16 kitab tafsir yang saya miliki, makna awliya memang beda-beda,” ujarnya lewat kicauan di Twitter.

💼 “Salah satu guru saya waktu ngaji tafsir al Ibriz–dalam bahasa Jawa–awliya dimaknai “bolone”, bukan “pemimpin”. Bolo itu lawan katanya musuh.”

🕶 Pengertian bolo dan musuh berarti turunnya ayat ini dalam suasana perang. Sebab dalam situasi damai, tidak ada bolo dan musuh. Semua saudara.

📚 BIMBINGAN ULAMA AHLUSSUNNAH WALJAMA’AH

💺 Sekarang mari kita perhatikan kembali bagaimana para ulama ahlussunnah waljama’ah memahami dan menerapkan ayat ini. Salah seorang ulama tafsir yang bermadzhab Syafi’i, yaitu Imam Ibnu Katsir rahimahullah, dalam kitab beliau yang terkenal dengan “Tafsir Ibnu Katsir” memberikan penjelasan pada surat al-Maidah ayat 51,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّـهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ ﴿٥١﴾

📖 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi auliya bagimu; sebagian mereka adalah auliya bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kalian mengambil mereka menjadi auliya, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.  Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” (al-Maidah: 51)

💥 Allah subhanahu wa ta’ala melarang hamba-hamba-Nya yang beriman mengangkat orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani sebagai wali mereka, karena mereka adalah musuh-musuh Islam dan para penganutnya; semoga Allah melaknat mereka. Kemudian Allah memberitahukan bahwa sebagian dari mereka adalah wali bagi sebagian yang lain. Selanjutnya Allah MENGANCAM orang mukmin yang melakukan hal itu melalui firman-Nya:

وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ

♨️ “Barangsiapa di antara kalian mengambil mereka menjadi walinya, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.”

💺 Lalu Imam Ibnu Katsir rahimahullahu menukil sebuah riwayat dari Umar bin Khathab radhiallahu ‘anhu,

✍ “Bahwasanya Umar bin Khathab radhiallahu ‘anhu memerintahkan Abu Musa al-Asy’ari  radhiallahu ‘anhu bahwa pencatatan pengeluaran dan pemasukan pemerintah dilakukan oleh satu orang. Abu Musa memiliki seorang juru tulis yang beragama Nasrani. Abu Musa pun mengangkatnya untuk mengerjakan tugas tadi. Umar bin Khathab radhiallahu ‘anhu pun kagum dengan hasil pekerjaannya.

📢 Ia  berkata: ‘Hasil kerja orang ini bagus, bisakah orang ini didatangkan dari Syam untuk membacakan laporan-laporan di depan kami?’

✏️ Abu Musa menjawab:

✋ ‘Ia tidak bisa masuk ke tanah Haram’.

💺 Umar bertanya:

❓ ‘Kenapa? Apa karena ia junub?’

💦 Abu Musa menjawab: ‘Bukan, karena ia seorang Nasrani’.

💯 Umar pun menegurku dengan keras dan memukul pahaku dan berkata: ‘pecat dia!’.

🎯 Umar radhiallahu ‘anhu lalu membacakan ayat:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّـهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ ﴿٥١﴾

📖 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi auliya bagimu; sebagian mereka adalah auliya bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kalian mengambil mereka menjadi auliya, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.  Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” (al-Maidah: 51)

📒 (Tafsir Ibni Katsir, 3/132).

✏️ Dari penjelasan Imam Ibnu Katsir rahimahullahu dan penerapan yang dilakukan oleh khalifah Umar bin Khathab radhiallahu ‘anhu menunjukkan bahwa ayat ini tidak hanya berlaku saat kondisi perang. Kondisi damai pun ayat ini harus diterapkan.

✅ Ayat ini sangat jelas menunjukkan larangan bagi kaum muslimin untuk menjadikan orang kafir sebagai walinya. Memang wali bisa diartikan dengan teman dekat, orang kepercayaan (tangan kanan atau sekretaris atau asisten pribadi), pemimpin, pemegang jabatan, dll.

⚠️ Justru kisah khalifah Umar bin Khathab radhiallahu ‘anhu mempertegas akan makna ayat, larangan seorang gubernur mengambil sekretaris urusan pemerintahan kepada seorang Nasrani. Lalu bagaimanakah dengan jabatan yang jauh lebih tinggi, semisal gubernur. Suatu jabatan yang mengurusi hajat hidup dan keberagamaan umat Islam. Tentunya larangan tersebut akan lebih berat.

❎ Suatu ironi, Nusron Wahid bukan hanya memberikan statemen, tapi membela mati-matian seorang calon gubernur nonmuslim.

🚨 Tidak ingatkah Nusron dengan ayat setelahnya, Allah ta’ala menyebutkan:

فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ  ﴿٥٢﴾

🛰 “Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada PENYAKIT dalam HATINYA bersegera mendekati mereka (yahudi dan nasrani)…” (al-Maidah: 52)

⛵️ Mudah-mudahan warga NU bisa terjauhkan dari pemimpin yang menjauhkan umat dari agamanya.

🚀 Silakan kunjungi:

http://www.yuk-kenal-nu.net/2016/11/25/surat-al-maidah-51/

💎🌷💎🌷💎🌷💎🌷💎🌷💎🌷💎🌷💎🌷💎🌷💎🌷💎🌷💎🌷💎🌷💎🌷💎🌷

🌏🚀 Tebarkan nasihat, berilmu, beramal dan beramar makruf nahi mungkar.

🌷💐 Dengan mengajak saudara, kenalan dan handai taulan anda bergabung dengan channel telegram YKNU Online di:

https://telegram.me/yknuonline

Atau

https://goo.gl/qyrUcN

Atau

http://bit.ly/1luO2wL

Masihkah Kita Merasa…Cukup Pantas tuk Dapatkan Surga ?

*✋🏾Masihkah Kita Merasa…*
*Cukup Pantas tuk* *Dapatkan Surga❓*
~~~~~~~~~~~~~~~~~~

✍🏼Disebutkan tentang Al Imam Ibnul Jauzi rahimahullah :

✔Masuk islam dari tangan beliau lebih dari dua puluh ribu orang yahudi dan nasrhoni !!!

✔Dengan sebabnya pula seribu orang telah bertaubat !!!

✔Dan karya beliau lebih dari dua ribu kitab !!!

✏Beliaulah yang mengatakan kepada murid – muridnya ;

_“`” Apabila kalian telah masuk surga namun tidak mendapatkanku, lantas kalian bertanya tentang diriku. Maka katakanlah : ” Wahai Rabbku sesungguhnya hambaMu fulan (Ibnul Jauzi) dahulu sering mengingatkan kami tentangMu” kemudian beliau rahimahullah pun menangis.“`_

_*📚Dzail Thobaqoth Al Hanabilah 2 / 481*_

☝🏾Bandingankan itu semua dengan keadaan kita yang sedikit amalannya namun angan – angan begitu besar

🔓Sebagian kita jika telah sholat lima waktu dalam sehari sudah menyangka termasuk orang – orang yang diberitakan kabar gembira dengan surga

👉🏼Bahkan yang lebih rendah lagi tatkala seseorang selesai menghafal hadits arbaain  menganggap dirinya  adalah syaikhul islam

Laahaula walaa quwata illa billah

*🏡Ma’ had Nurus Sunnah Teg@l*

🚪🚪🚪🚪🚪🚪🚪🚪🚪

MESIN-MESIN BIADAB MILIK SYIAH DAN KOMUNIS RUSIA TERUS BERJALAN MENGHABISI KAUM MUSLIMIN DI ALEPPO SURIAH

Tukpencarialhaq:
💦MESIN-MESIN BIADAB MILIK SYIAH DAN KOMUNIS RUSIA TERUS BERJALAN MENGHABISI KAUM MUSLIMIN DI ALEPPO SURIAH💦

PERSATUAN ISLAM APA YANG DITERIAKKAN OLEH SYIAH RAFIDHAH IRAN DALAM KEADAAN KEDUA TANGAN MEREKA BERLUMURAN DARAH TEROR TERHADAP KAUM MUSLIMIN?!?!

Pembantaian kembali dilaporkan terjadi malam ini terhadap 200 warga Aleppo termasuk para relawan di salah satu pusat medis

Massacres already reported tonight 200 killed including all staff in one medical center

http://www.genocideinsyria.org/so/9LZpsf5x#/main

‏اللهم الطف بإخواننا في حلب وسوريا
اللهم أهلك عدوك وعدهم
اللهم أغث المستضعفين وأخرجهم آمنين
اللهم رحمتك بهم اللهم رحمتك بهم
#حلب_تباد

Lihat Tweet @almadani_k: https://twitter.com/almadani_k/status/808511879127695360?s=08

HUKUM MELAGUKAN ADZAN

Info dan ta’lim madiun 0857 3540 9543:
📢🕌🔊 HUKUM MELAGUKAN ADZAN

◎◎◎◎◎◎◎◎🔹🌻🔹◎◎◎◎◎◎◎◎

💬 Wah…. Kalo hal ini sering kita mendengar, hukumnya bagaimana ya?

❓ Mau tau…. Terutama bagi para muadzin, simak penjelasan berikut ini:

⛵️ FATAWA SYAIKH MUQBIL rahimahullah

🌵 Pertanyaan:
Apa hukum melagukan adzan?

🌷 Jawaban:
“Melagukan adzan (dalam artian) membaguskan suara maka tidak mengapa.

❗️Akan tetapi terlalu memanjang-manjangkan maka tidak disyariatkan. Boleh jadi bisa mengantarkan kepada perbuatan mengolok-olok. (Disadari maupun tidak, wallahu a’lam, pen)

✅ Maka hendaknya mengumandangkan adzan sesuai tabiatnya. Dan janganlah melebihi kaidah-kaidah ilmu tajwid. Hanya Allah-lah tempat meminta pertolongan.

📼 Sumber: Kaset Al As’ilah Almadinah

__________________

نص السؤال:
ما حكم التغني بالأذان ؟

نص الإجابة:
التغنبي بالأذان تحسين الصوت لا بأس به لكن التمطيط ليس بمشروع ، وربما أدى إلى السخرية .
فيؤذن على حسب طبيعته ، ولا يتجاوز القواعد التجويدية والله المستعان .

———-
من شريط ( أسئلة المدينة )

————————————

✍🏻🌏 WhatsApp ⓚⓘⓣⓐ🇮🇩ⓢⓐⓣⓤ
Menebar sunnah dan membantah bid’ah adalah bagian dari jihad fi sabilillah… Tunggu apa lagi bagi-bagi faedah ilmiahnya….ayo segera  gabung.

🌐📲 Join Channel Telegram: https://bit.ly/KajianIslamTemanggung

📻✔️ Dengarkan al-Qur’an setiap saat di Radio Islam Indonesia: http://bit.ly/AplikasiRadioIslamIndonesia
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

SAFAR DAN BATASANNYA

Info dan ta’lim madiun 0857 3540 9543:
:.
“`🚇SAFAR DAN BATASANNYA“`

Asy Syariah Edisi 048 | Ditulis Oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar hafidzahullah

Safar merupakan bagian hidup setiap muslim dalam rangka menjalankan ketaatan kepada Rabbnya atau untuk meraih kemaslahatan duniawinya. Dari kesempurnaan agama ini serta kemudahan-kemudahan yang ada di dalamnya, Allah Ta’ala menetapkan hukum-hukum safar serta mengajarkan adab-adabnya di dalam Al-Kitab dan Sunnah Nabi-Nya ﷺ.

 

*Pengertian Safar*

Dalam bahasa Arab, safar berarti menempuh perjalanan. Adapun secara syariat safar adalah meninggalkan tempat bermukim dengan niat menempuh perjalanan menuju suatu tempat. (Lisanul Arab, 6/277, Asy-Syarhul Mumti’, 4/490, Shahih Fiqhus Sunnah, 1/472)

 

*Batasan Safar*

Para ulama berbeda pendapat tentang jarak perjalanan yang telah dianggap sebagai safar. Al-Imam Ash-Shan’ani rahimahullah menyebutkan ada sekitar 20 pendapat dalam permasalahan ini sebagaimana dihikayatkan oleh Ibnul Mundzir. (Subulus Salam, 3/109)

Di sini akan kita sebutkan beberapa pendapat.

*◾1. Jarak minimal suatu perjalanan dianggap/disebut safar adalah 4 barid = 16 farsakh = 48 mil = 85 km.*

Ini adalah pendapat Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Al-Hasan Al-Bashri, Az-Zuhri, Malik, Ahmad, dan Asy-Syafi’i. Dalilnya adalah riwayat dari Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas Radhiyallaahu ‘anhuma:

كَانَا يُصَلِّيَانِ رَكْعَتَيْنِ وَيُفْطِرَانِ فِي أَرْبَعَةٍ بُرُدٍ فَمَا فَوْقَ ذَلِكَ

_“Adalah beliau berdua (Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas) shalat dua rakaat (qashar) dan tidak berpuasa dalam perjalanan 4 barid atau lebih dari itu.”_ (Diriwayatkan Al-Baihaqi dengan sanad yang shahih, dan Al-Bukhari  dalam Shahih-nya secara mu’allaq)

Mereka juga berdalil dengan sabda Nabi ﷺ:

يَا أَهْلَ مَكَّةَ، لاَ تَقْصُرُوا الصَّلَاةَ فِي أَقَلِّ مِنْ أَرْبَعَةِ بُرُدٍ مِنْ مَكَّةَ إِلَى عَسْفَانَ

_“Wahai penduduk Makkah, janganlah kalian mengqashar shalat (dalam perjalanan) kurang dari 4 barid dari Makkah ke ‘Asfan.”_
(HR. Ad-Daraquthni dan Al-Baihaqi. Hadits ini dhaif sekali karena ada dua perawi yang dhaif: Abdulwahhab bin Mujadid bin Jabr dan Isma’il bin ‘Iyyasy. Lihat Al-Irwa’ no. 565)

*◾2. Jarak minimal sebuah perjalanan dianggap/disebut safar adalah sejauh perjalanan 3 hari 3 malam (berjalan kaki atau naik unta).*

Ini adalah pendapat Ibnu Mas’ud, Suwaid bin Ghafalah, Asy-Sya’bi, An-Nakha’i, Ats-Tsauri, dan Abu Hanifah. Dalilnya adalah hadits Ibnu ‘Umar Radhiyallaahu ‘anhuma:

لاَ تُسَافِرُ الْـمَرْأَةُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ

_“Tidak boleh seorang wanita safar selama tiga hari kecuali bersama mahramnya.”_1 (HR. Al-Bukhari, Kitabul Jum’ah, Bab Fi Kam Yaqshuru Ash-Shalah no. 1034)

*◾3. Jarak minimal sebuah perjalanan dianggap safar adalah sejauh perjalanan sehari penuh.*

Pendapat ini dipilih oleh Al-Auza’i dan Ibnul Mundzir.

Dan masih ada beberapa pendapat yang lain.

Sedangkan riwayat yang paling kuat dalam permasalahan ini adalah hadits Anas Radhiyallaahu ‘anhu:

كَانَ رَسُولُ اللهِﷺ إِذَا خَرَجَ مَسِيْرَةَ ثَلَاثَةِ أَمْيَالٍ أَوْ ثَلَاثَةِ فَرَاسِخَ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ

_“Adalah Rasulullahﷺ  apabila beliau keluar sejauh 3 mil atau 3 farsakh beliau shalat 2 rakaat (yakni mengqashar shalat).”_ (HR. Muslim, Kitab Shalatul Musafirin wa Qashruha, Bab Shalatul Musafirin wa Qashruha, no. 1116)

Dalam riwayat di atas tidak dipastikan apakah Rasulullah ﷺ mengqashar shalat pada jarak 3 mil atau 3 farsakh. Sehingga riwayat ini tidak bisa dijadikan hujjah dalam membatasi jarak safar.

Adapun larangan Rasulullah ﷺ terhadap seorang wanita yang safar sejauh perjalanan 3 hari tanpa mahram, maka tidak ada hujjah dalam hadits tersebut 2. Karena hadits tersebut tidak menunjukkan bahwa safar tidak terwujud atau terjadi kecuali dalam jarak perjalanan tiga hari. Hadits itu hanya menunjukkan larangan bagi seorang wanita untuk safar tanpa disertai mahram.

Hal ini ditunjukkan pula dalam riwayat yang lain dari sahabat Abu Sa’id Radhiyallaahu ‘anhu dalam riwayat Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim. Di dalamnya terdapat lafadz يَوْمَيْنِ (dua hari):

لاَ تُسَافِرُ الْمَرْأَةُ يَوْمَيْنِ إِلاَّ وَمَعَهَا زَوْجُه

Info dan ta’lim madiun 0857 3540 9543:
َا أَوْ ذُو مَحْرَمٍ

_“Tidak boleh seorang wanita safar selama dua hari kecuali bersama suami atau mahramnya.”_

Dalam riwayat yang lain disebutkan dengan lafadz يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ (satu hari satu malam):

لاَ يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ مَسِيرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ لَيْسَ مَعَهَا مَحْرَمٍ

_“Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk safar sejauh perjalanan sehari semalam tanpa disertai mahram.”_ (Muttafaqun ‘alaih dari hadits Abu Hurairah)

*Riwayat-riwayat ini menunjukkan bahwa safar tidak dibatasi dengan perjalanan tiga hari.*

Ibnu Qudamah berkata: “Tidak ada dasar yang jelas untuk menentukan batasan jarak safar. Karena menetapkan batasan jarak safar membutuhkan nash (dalil) yang datang dari Allah Ta’ala atau Rasul-Nya ﷺ.”

Sedangkan dalam Al-Qur’an 3 dan As-Sunnah 4, safar disebutkan secara mutlak tanpa dikaitkan dengan batasan tertentu.

Dalam kaidah fiqhiyah disebutkan: “Sesuatu yang mutlak tetap berada di atas kemutlakannya sampai datang sesuatu yang memberi batasan atasnya.”

Ketika tidak ada pembatasan jarak safar dalam syariat (nash), demikian pula tidak ada pembatasannya dalam bahasa Arab, *maka pembatasan safar kembali kepada ‘urf (kebiasaan masyarakat setempat)*.

✔Selama masyarakat setempat menganggap/ menyatakan perjalanan tersebut adalah safar, maka perjalanan itu adalah safar yang disyariatkan untuk mengqashar shalat dan berbuka puasa di dalamnya.

*Pendapat yang paling kuat –wallahu a’lam– adalah pendapat Ibnu Qudamah dan yang lainnya, bahwa batasan safar kembali kepada ‘urf (kebiasaan masyarakat setempat).*

Pendapat ini dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya Al-’Allamah Ibnul Qayyim. Demikian pula dikuatkan oleh Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dan Syaikhuna Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahumullah. (lihat Al-Mughni 2/542-543, Al-Majmu’ 4/150, Majmu’Al-Fatawa 24/21, Asy-Syarhul Mumti’ 4/497, Al-Jam’u baina Ash-Shalataini fis Safar hal. 122)

Wallahu a’lam.

 
__________
1) Mahram adalah lelaki yang diharamkan menikahinya selama-lamanya, disebabkan adanya hubungan nasab (keturunan), hubungan pernikahan, dan persusuan. Lihat Syarh Riyadhish Shalihin, Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, no. 990)

2) Yakni hadits Ibnu ’Umar Radhiyallaahu ‘anhuma:

لاَ تُسَافِرُ الْمَرْأَةُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ

_“Tidak boleh seorang wanita safar selama tiga hari kecuali bersama mahramnya.”_

3) Firman Allah Ta’ala:

“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar shalatmu, jika kamu takut diserang orang-orang kafir.” (An-Nisa’: 101)

Juga firman Allah Ta’ala:

“Dan barangsiapa sakit atau dalam safar (kemudian berbuka) maka hendaknya ia berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkannya itu.” (Al-Baqarah: 185)

4) Di antaranya, dari Abdullah bin Umar Radhiyallaahu ‘anhuma dia berkata:

صَحِبْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ فَكَانَ لاَ يَزِيدُ فِي السَّفَرِ عَلَى رَكْعَتَيْنِ، وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ كَذَلِكَ

“Aku telah menemani Rasulullah ﷺ, maka beliau tidak pernah menambah lebih dari dua rakaat dalam safar. Demikian pula aku menemani Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsman seperti itu.” (Muttafaqun alaih, lafadz ini adalah lafadz Al-Bukhari)

•••
📇 http://asysyariah.com/safar-dan-batasannya/